| No | Pasal | Pokok Ketentuan | Penjelasan | Bukti/Referensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasal II ayat (1) | Sesuaikan kepesertaan JKP pekerja paling lambat 15 hari kerja setelah peraturan berlaku. | Kementerian, BPJS Ketenagakerjaan, dan BPJS Kesehatan wajib menyesuaikan data kepesertaan JKP pekerja dalam jangka waktu maksimal 15 hari kerja setelah peraturan berlaku. | Dokumen penyesuaian kepesertaan JKP |
| 2 | Pasal II ayat (2) | Sesuaikan manfaat JKP sesuai ketentuan PP terbaru. | Semua manfaat JKP harus disesuaikan berdasarkan ketentuan dalam peraturan pemerintah yang baru berlaku. | Dokumen update manfaat JKP |
| 3 | Pasal II ayat (3) | Peraturan pelaksanaan PP lama tetap berlaku jika tidak bertentangan dengan PP baru. | Peraturan pelaksanaan PP Nomor 37 Tahun 2021 tetap berlaku selama tidak bertentangan dengan PP ini. | Dokumen crosscheck PP lama vs PP baru |
| 4 | Pasal II ayat (4) | Peraturan pemerintah mulai berlaku sejak diundangkan. | PP ini efektif berlaku sejak tanggal diundangkan dan harus diterapkan perusahaan sejak saat itu. | Salinan PP yang telah diundangkan |
| No | Pasal | Pokok Ketentuan | Penjelasan | Bukti/Referensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasal 4 ayat (1) huruf a | Daftarkan seluruh Pekerja/Buruh yang sudah dipekerjakan ke dalam program jaminan sosial. | Pekerja/Buruh yang sudah aktif bekerja harus tercatat untuk mendapatkan perlindungan jaminan sosial seperti BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. | Bukti pendaftaran BPJS, slip iuran |
| 2 | Pasal 4 ayat (1) huruf b | Daftarkan seluruh Pekerja/Buruh yang baru diterima ke dalam program jaminan sosial segera setelah mulai bekerja. | Pekerja/Buruh baru wajib didaftarkan untuk memastikan mereka menerima hak dan perlindungan sosial dari hari pertama bekerja. | Formulir pendaftaran baru, bukti setoran iuran pertama |
| 3 | Pasal 4 ayat (2) huruf a | Pastikan peserta adalah Warga Negara Indonesia. | Perusahaan wajib memverifikasi identitas pekerja/buruh agar hanya WNI yang didaftarkan dalam program jaminan sosial. | KTP / data kependudukan |
| 4 | Pasal 4 ayat (2) huruf b | Pastikan peserta belum mencapai usia 54 tahun saat mendaftar. | Usia maksimal pendaftaran adalah 54 tahun untuk memenuhi ketentuan program jaminan sosial. | Formulir pendaftaran, dokumen usia pekerja |
| 5 | Pasal 4 ayat (2) huruf c | Pastikan peserta mempunyai hubungan kerja dengan perusahaan. | Hanya pekerja yang memiliki kontrak kerja resmi (PKWT/PKWTT) yang dapat didaftarkan ke program jaminan sosial. | Surat perjanjian kerja, daftar hadir |
| 6 | Pasal 4 ayat (3) huruf a | Daftarkan pekerja/buruh usaha besar dan menengah pada program JKK, JHT, JP, JKM, dan JKN. | Perusahaan wajib mendaftarkan seluruh pekerja/buruh pada usaha besar dan menengah ke seluruh program jaminan sosial: JKK (Kecelakaan Kerja), JHT (Hari Tua), JP (Pensiun), JKM (Kematian), dan JKN (Kesehatan). | Bukti pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan & BPJS Kesehatan |
| 7 | Pasal 4 ayat (3) huruf b | Daftarkan pekerja/buruh usaha mikro dan kecil pada program JKK, JHT, JKM, dan JKN. | Perusahaan wajib mendaftarkan pekerja/buruh usaha mikro dan kecil minimal pada JKK, JHT, JKM, serta terdaftar di JKN (kesehatan). | Bukti pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan & BPJS Kesehatan |
| No | Pasal | Pokok Ketentuan | Penjelasan | Bukti/Referensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasal 11 ayat (1) | Bayarkan iuran program JKP setiap bulan. | Perusahaan wajib membayar iuran Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) setiap bulan tepat waktu. | Bukti transfer atau laporan pembayaran BPJS Ketenagakerjaan |
| 2 | Pasal 11 ayat (2) | Bayarkan iuran JKP sebesar 0,36% dari upah bulanan. | Perusahaan wajib menghitung iuran JKP sebesar 0,36% dari total upah sebulan untuk setiap pekerja/buruh. | Slip gaji dan bukti transfer iuran BPJS |
| 3 | Pasal 11 ayat (3) | Pastikan sumber iuran JKP berasal dari pemerintah pusat dan pendanaan JKP. | Iuran 0,36% terdiri dari iuran yang dibayar pemerintah pusat dan sumber pendanaan JKP lainnya. | Laporan BPJS dan dokumen resmi pemerintah |
| 4 | Pasal 11 ayat (4) | Pastikan iuran pemerintah pusat sebesar 0,22% dari upah bulanan. | Dari total iuran 0,36%, pemerintah pusat menanggung 0,22% dari upah setiap pekerja/buruh. | Laporan resmi BPJS Ketenagakerjaan |
| 5 | Pasal 11 ayat (5) | Gunakan rekomposisi iuran JKK sebagai sumber pendanaan JKP sebesar 0,14% dari Upah sebulan. | Perusahaan wajib menyesuaikan iuran JKP dengan iuran JKK yang direkomposisi sebesar 0,14% dari upah bulanan. | Laporan BPJS Ketenagakerjaan, bukti transfer iuran |
| 6 | Pasal 11 ayat (5) huruf a | Bayarkan iuran JKK sesuai tingkat risiko lingkungan kerja: sangat rendah 0,10% dari Upah sebulan. | Perusahaan menghitung iuran JKK untuk pekerja di lingkungan kerja risiko sangat rendah sebesar 0,10% dari upah. | Slip gaji, dokumen BPJS |
| 7 | Pasal 11 ayat (5) huruf b | Bayarkan iuran JKK sesuai tingkat risiko lingkungan kerja: rendah 0,40% dari Upah sebulan. | Perusahaan menghitung iuran JKK untuk pekerja di lingkungan kerja risiko rendah sebesar 0,40% dari upah. | Slip gaji, dokumen BPJS |
| 8 | Pasal 11 ayat (5) huruf c | Bayarkan iuran JKK sesuai tingkat risiko lingkungan kerja: sedang 0,75% dari Upah sebulan. | Perusahaan menghitung iuran JKK untuk pekerja di lingkungan kerja risiko sedang sebesar 0,75% dari upah. | Slip gaji, dokumen BPJS |
| 9 | Pasal 11 ayat (5) huruf d | Bayarkan iuran JKK sesuai tingkat risiko lingkungan kerja: tinggi 1,13% dari Upah sebulan. | Perusahaan menghitung iuran JKK untuk pekerja di lingkungan kerja risiko tinggi sebesar 1,13% dari upah. | Slip gaji, dokumen BPJS |
| 10 | Pasal 11 ayat (5) huruf e | Bayarkan iuran JKK sesuai tingkat risiko lingkungan kerja: sangat tinggi 1,60% dari Upah sebulan. | Perusahaan menghitung iuran JKK untuk pekerja di lingkungan kerja risiko sangat tinggi sebesar 1,60% dari upah. | Slip gaji, dokumen BPJS |
| 11 | Pasal 11 ayat (6) | Gunakan upah terakhir pekerja sebagai dasar perhitungan iuran JKP dan JKK. | Perusahaan wajib menggunakan upah terakhir yang dilaporkan ke BPJS Ketenagakerjaan sebagai acuan iuran, tidak boleh melebihi batas atas Upah. | Laporan BPJS Ketenagakerjaan, slip gaji |
| 12 | Pasal 11 ayat (7) | Batasi dasar perhitungan iuran maksimal sebesar Rp5.000.000 per bulan. | Iuran JKP dan JKK dihitung maksimal dari upah Rp5 juta per bulan meskipun upah aktual lebih tinggi. | Slip gaji, laporan BPJS |
| 13 | Pasal 11 ayat (8) | Terapkan batas atas Upah sebagai dasar iuran jika upah pekerja melebihi Rp5.000.000. | Jika upah pekerja lebih dari Rp5 juta, dasar perhitungan iuran tetap menggunakan Rp5 juta sebagai acuan. | Laporan BPJS, dokumen perhitungan iuran |
| No | Pasal | Pokok Ketentuan | Penjelasan | Bukti/Referensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasal 19 ayat (1) | Berikan manfaat JKP kepada peserta yang mengalami PHK, baik PKWT maupun PKWTT. | Perusahaan wajib memastikan peserta yang terkena pemutusan hubungan kerja mendapatkan hak JKP sesuai ketentuan. | Dokumen PHK, laporan BPJS Ketenagakerjaan |
| 2 | Pasal 19 ayat (2) | Pastikan penerima manfaat JKP bersedia bekerja kembali. | Peserta yang menerima JKP harus aktif mencari pekerjaan kembali, perusahaan dapat mendukung informasi lowongan atau pelatihan. | Formulir persetujuan peserta JKP |
| 3 | Pasal 19 ayat (3) | Peserta dapat mengajukan manfaat JKP setelah memiliki masa iur minimal 12 bulan dalam 24 bulan terakhir sebelum PHK. | Perusahaan wajib melaporkan iuran tepat waktu ke BPJS agar peserta memenuhi syarat klaim JKP. | Laporan iuran BPJS, slip gaji |
| 4 | Pasal 20 ayat (1) huruf a | Jangan bayarkan manfaat JKP jika pekerja mengundurkan diri. | Jika pekerja secara sukarela mengundurkan diri, perusahaan tidak wajib mengklaim JKP atas nama pekerja tersebut. | Dokumen pengunduran diri, surat PHK |
| 5 | Pasal 20 ayat (1) huruf b | Jangan bayarkan manfaat JKP jika pekerja mengalami cacat total tetap. | Pekerja yang tidak dapat bekerja lagi karena cacat total tetap tidak berhak atas JKP. | Dokumen medis, laporan BPJS Ketenagakerjaan |
| 6 | Pasal 20 ayat (1) huruf c | Jangan bayarkan manfaat JKP jika pekerja pensiun. | Pekerja yang mengakhiri hubungan kerja karena mencapai usia pensiun tidak berhak atas JKP. | Dokumen pensiun, surat keputusan PHK |
| 7 | Pasal 20 ayat (1) huruf d | Jangan bayarkan manfaat JKP jika pekerja meninggal dunia. | Jika pekerja meninggal dunia, klaim JKP tidak dapat diajukan oleh ahli waris. | Akta kematian, dokumen PHK |
| 8 | Pasal 20 ayat (2) | Berikan manfaat JKP bagi Peserta dengan hubungan kerja PKWT apabila Pemutusan Hubungan Kerja dilakukan sebelum berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja. | Manfaat JKP hanya berlaku jika perusahaan memutuskan hubungan kerja PKWT sebelum masa kontrak habis. | Dokumen PKWT, surat PHK sebelum kontrak berakhir |
| 9 | Pasal 20 ayat (3) huruf a | Serahkan bukti Pemutusan Hubungan Kerja secara resmi oleh pekerja/buruh dan dilaporkan ke dinas ketenagakerjaan provinsi atau kabupaten/kota. | Pemutusan hubungan kerja harus dibuktikan dengan tanda terima resmi dan laporan ke instansi terkait agar klaim JKP sah. | Surat PHK, tanda terima laporan Pemutusan Hubungan Kerja |
| 10 | Pasal 20 ayat (3) huruf b angka 1 | Serahkan bukti Pemutusan Hubungan Kerja melalui perjanjian bersama yang terdaftar secara resmi. | Perusahaan wajib memiliki akta bukti pendaftaran perjanjian bersama yang dikeluarkan oleh Pengadilan Hubungan Industrial. | Akta pendaftaran perjanjian bersama |
| 11 | Pasal 20 ayat (3) huruf b angka 2 | Laporkan Pemutusan Hubungan Kerja ke dinas ketenagakerjaan provinsi atau kabupaten/kota. | Tanda terima laporan PHK dari kementerian atau dinas ketenagakerjaan menjadi bukti sah klaim JKP. | Tanda terima laporan PHK |
| 12 | Pasal 20 ayat (3) huruf c | Sertakan petikan atau salinan putusan Pengadilan Hubungan Industrial yang telah berkekuatan hukum tetap. | Apabila PHK dibawa ke pengadilan, petikan putusan yang sudah inkracht wajib dijadikan dokumen pendukung JKP. | Salinan putusan Pengadilan Hubungan Industrial |
| 13 | Pasal 21 ayat (1) | Bayarkan manfaat uang tunai setiap bulan sebesar 60% dari Upah Pekerja/Buruh yang terkena PHK, maksimal 6 bulan. | Perusahaan wajib menghitung dan membayarkan manfaat JKP secara bulanan berdasarkan Upah terakhir. | Bukti transfer atau slip pembayaran JKP |
| 14 | Pasal 21 ayat (2) | Gunakan Upah terakhir Pekerja/Buruh yang dilaporkan ke BPJS Ketenagakerjaan sebagai dasar perhitungan. | Dasar perhitungan manfaat uang tunai JKP adalah Upah terakhir yang tercatat di BPJS Ketenagakerjaan. | Laporan Upah BPJS Ketenagakerjaan |
| 15 | Pasal 21 ayat (3) dan (4) | Batasi dasar pembayaran manfaat JKP sesuai batas atas Upah sebesar Rp5.000.000,00. | Jika Upah melebihi Rp5.000.000, gunakan Rp5.000.000 sebagai dasar pembayaran manfaat uang tunai. | Rekapitulasi pembayaran JKP |
| No | Pasal | Pokok Ketentuan | Penjelasan | Bukti/Referensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasal 25 ayat (1) huruf a | Pastikan Pekerja/Buruh mendapatkan akses informasi pasar kerja melalui layanan informasi pasar kerja. | Perusahaan wajib memberi kesempatan bagi peserta JKP untuk memperoleh data pasar kerja, termasuk lowongan dan tren industri. | Dokumen atau bukti penggunaan layanan informasi pasar kerja |
| 2 | Pasal 25 ayat (1) huruf b | Pastikan Pekerja/Buruh mendapatkan bimbingan jabatan sesuai kebutuhan. | Pekerja/Buruh dapat dibimbing dalam penyesuaian karir, pengembangan kompetensi, atau penempatan kerja baru. | Bukti bimbingan jabatan / log kegiatan |
| 3 | Pasal 25 ayat (2) | Koordinasikan layanan melalui pengantar kerja di kementerian, dinas provinsi, atau dinas kabupaten/kota melalui Sistem Informasi Ketenagakerjaan. | Perusahaan wajib memastikan peserta dapat mengakses layanan melalui jalur resmi pemerintah, baik pusat maupun daerah, dengan memanfaatkan sistem informasi ketenagakerjaan. | Screenshot penggunaan sistem informasi ketenagakerjaan |
| 4 | Pasal 31 ayat (1) | Pastikan Pelatihan Kerja dilakukan melalui LPK milik pemerintah, swasta, atau perusahaan. | Perusahaan harus menyalurkan peserta ke lembaga pelatihan yang resmi dan sah untuk memastikan kualitas pelatihan. | Dokumen kontrak kerja sama dengan LPK |
| 5 | Pasal 31 ayat (2) huruf a | Pastikan LPK memiliki pelatihan berbasis kompetensi kerja sesuai kebutuhan pasar kerja dan standar kompetensi nasional, internasional, atau khusus. | Materi pelatihan harus relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan industri dan standar nasional/internasional. | Silabus / kurikulum LPK |
| 6 | Pasal 31 ayat (2) huruf b | Pastikan LPK terdaftar dan terverifikasi di Sistem Informasi Ketenagakerjaan. | LPK wajib terdaftar secara resmi dalam sistem informasi ketenagakerjaan untuk validasi legalitas dan akreditasi. | Bukti registrasi di sistem informasi ketenagakerjaan |
| 7 | Pasal 31 ayat (2) huruf c | Pastikan LPK terakreditasi oleh lembaga akreditasi LPK dan memiliki sertifikat akreditasi. | Sertifikat akreditasi menjamin kualitas lembaga pelatihan sesuai standar nasional atau internasional. | Sertifikat akreditasi LPK |
| 8 | Pasal 31 ayat (3) | Ikuti tata cara pendaftaran, pemilihan jenis pelatihan, lembaga pelatihan, dan pemanfaatan pelatihan sesuai Peraturan Menteri. | Semua prosedur administrasi dan pemilihan program pelatihan harus sesuai ketentuan yang ditetapkan Peraturan Menteri terkait. | Peraturan Menteri terkait, dokumen pendaftaran LPK |
| 9 | Pasal 39 ayat (1) | Bayar manfaat uang tunai kepada peserta jika iuran JKK menunggak sampai 3 bulan berturut-turut saat terjadi PHK. | Jika perusahaan menunggak iuran JKK ? 3 bulan dan pekerja di-PHK, BPJS membayar uang tunai, perusahaan wajib melunasi iuran tersebut ke BPJS. | Laporan iuran BPJS, bukti pembayaran PHK |
| 10 | Pasal 39 ayat (2) | Lunasi tunggakan iuran setelah BPJS membayar manfaat uang tunai. | Perusahaan wajib membayar seluruh tunggakan JKK ke BPJS setelah BPJS membayarkan manfaat uang tunai. | Bukti pembayaran tunggakan iuran |
| 11 | Pasal 39 ayat (3) | Bayar manfaat uang tunai terlebih dahulu jika tunggakan JKK lebih dari 3 bulan saat PHK terjadi. | Jika tunggakan iuran lebih dari 3 bulan, perusahaan harus membayar manfaat JKP langsung ke peserta sebelum BPJS. | Bukti pembayaran manfaat JKP |
| 12 | Pasal 39 ayat (4) | Minta penggantian manfaat uang tunai ke BPJS setelah lunasi seluruh tunggakan dan denda. | Setelah melunasi seluruh kewajiban, perusahaan dapat klaim kembali uang tunai yang dibayarkan ke peserta dari BPJS. | Bukti pembayaran dan permintaan klaim ke BPJS |
| 13 | Pasal 39 ayat (5) | Ajukan permintaan penggantian manfaat uang tunai ke BPJS paling lama 3 bulan setelah membayar hak peserta. | Setelah perusahaan membayar manfaat JKP kepada peserta akibat tunggakan JKK, perusahaan harus mengajukan klaim penggantian ke BPJS dalam waktu maksimal 3 bulan. | Surat permintaan penggantian, bukti pembayaran manfaat peserta |
| 14 | Pasal 39 ayat (6) | Pastikan Perusahaan menerima pembayaran penggantian manfaat uang tunai dari BPJS paling lama 7 hari kerja setelah dokumen diterima lengkap. | BPJS wajib membayar penggantian manfaat uang tunai ke perusahaan paling lambat 7 hari kerja setelah dokumen permintaan klaim lengkap dan benar. | Bukti transfer pembayaran BPJS, konfirmasi penerimaan dokumen |
| 15 | Pasal 39A ayat (1) | Pastikan manfaat JKP tetap dibayarkan oleh BPJS Ketenagakerjaan jika perusahaan pailit atau tutup dan menunggak iuran hingga 6 bulan. | Jika perusahaan mengalami pailit atau tutup serta menunggak iuran JKK maksimal 6 bulan, BPJS tetap wajib membayar manfaat JKP kepada peserta. | Bukti pembayaran JKP oleh BPJS, status pailit perusahaan |
| 16 | Pasal 39A ayat (2) | Tetap melunasi tunggakan iuran dan denda program jaminan sosial ketenagakerjaan. | Kewajiban perusahaan untuk membayar seluruh tunggakan iuran dan denda tidak hilang meski BPJS telah membayarkan manfaat JKP. | Bukti pelunasan tunggakan iuran dan denda |
| 17 | Pasal 40 huruf a | Pastikan pekerja mengajukan klaim manfaat JKP paling lambat 6 bulan sejak PHK. | Hak pekerja atas manfaat JKP hilang jika tidak mengajukan klaim dalam jangka waktu 6 bulan setelah PHK. | Bukti pengajuan klaim JKP |
| 18 | Pasal 40 huruf b | Pastikan pekerja yang sudah memperoleh pekerjaan baru tidak mengklaim manfaat JKP. | Jika pekerja telah mendapatkan pekerjaan baru, hak manfaat JKP tidak berlaku lagi. | Bukti pemberhentian manfaat JKP |
| 19 | Pasal 40 huruf c | Pastikan manfaat JKP tidak dibayarkan kepada pekerja yang meninggal dunia. | Hak atas manfaat JKP hilang jika peserta meninggal dunia sebelum atau saat klaim. | Bukti kematian peserta |